Lo pernah nggak sih liat playlist temen lo, trus lo mikir: Ini orang kenapa playlist-nya kayak pasien jiwa?
Gue ngalamain sendiri pas lagi nongkrong sama temen—sebut aja Dita (22). Dia lagi dengerin musik pake earphone, trus tiba-tiba ngomong: “Eh, dengerin ini deh, enak banget.”
Gue colok earphone satu. Kedengeran lagu dangdut koplo. Asik, gue ikut goyang dikit. 3 menit kemudian, dia bilang: “Sekarang dengerin ini.”
Lagu berikutnya? Death metal. Scream, distorsi, double kick drum. Gue kaget.
“Lo… suka death metal?”
“Iya. Tapi nggak selalu. Kadang-kadang aja pas lagi butuh energi.”
Gue minta liat playlist-nya. Isinya: dangdut, metal, K-Pop, jazz instrumental, lo-fi, remix TikTok, lagu nostalgia 90an, dan… lagu anak-anak? Ada lagu Upin Ipin di situ.
Gue cuma bisa diem. Otak gue yang terbiasa dengan kategorisasi “genre favorit” nggak bisa mencerna.
Ini fenomena yang lagi viral banget di TikTok dengan hashtag #PlaylistAcak. Ribuan Gen Z pada pamer playlist mereka yang campur aduk. Komentarnya lucu-lucu:
“Playlist gue: Taylor Swift, Slipknot, Rhoma Irama, Blackpink, terus lagu soundtrack Upin Ipin. Normal.”
“Spotify gue kira-kira lagi error apa emang gue yang nggak normal?”
“Gue suka semua genre kecuali yang nggak enak.”
Gue penasaran. Kenapa Gen Z nggak punya genre favorit? Kenapa mereka bisa lompat-lompat kayak gitu? Apa ini cuma soal selera, atau ada yang lebih dalam?
Gue ngobrol sama 3 Gen Z dengan playlist paling acak, 1 musisi senior yang bingung sama tren ini, dan 1 psikolog musik. Hasilnya? Bikin gue ngecek playlist sendiri dan sadar: gue juga ternyata kayak gini.
Kasus #1: Dita (22, Mahasiswa) — “Hidup Udah Berat, Jangan Dipersulit dengan Pilih Genre”
Dita adalah pemilik playlist yang bikin gue kaget tadi. Gue ngobrol lagi sama dia, lebih dalam.
“Gue dari kecil dengerin apa aja yang diputer ortu. Dangdut, pop, kadang keroncong. Pas SMP, gue kenal K-Pop. Pas SMA, gue ikut komunitas metal. Pas kuliah, gue nemu jazz. Semuanya gue suka.”
Gue tanya: “Lo nggak merasa perlu punya identitas musik? Biasanya orang tuh ‘gue anak metal’, ‘gue anak K-Pop’, gitu.”
Dita ketawa. “Buat apa? Hidup udah berat. Urusan kuliah, urusan kerja, urusan masa depan, udah pusing. Masa urusan musik juga harus pilih-pilih? Gue dengerin apa yang enak di telinga gue saat itu.”
Gue tanya soal algoritma Spotify.
“Algoritma bingung sama gue. Setiap minggu, rekomendasi gue isinya campur aduk. Kadang lucu, ada rekomendasi lagu anak-anak di sela-sela metal. Tapi ya udah, gue nikmatin aja.”
Momen absurd: “Pernah gue lagi di angkot, dengerin lagu metal. Supirnya nengok. Pas gue ganti ke dangdut, dia bingung. Mungkin dia kira gue lagi main-main sama HP.”
Data point: Dalam polling di grup kampus Dita, 8 dari 10 Gen Z mengaku playlist mereka berisi minimal 5 genre berbeda. 4 dari 10 mengaku nggak bisa menyebutkan “genre favorit” mereka dengan yakin.
Kasus #2: Rizky (24, Karyawan Startup) — “Playlist Gue Cerminan Mood Yang Naik Turun”
Rizky kerja di startup. Hari-harinya naik turun. Kadang semangat, kadang stres, kadang santai, kadang galau. Playlist-nya ikut-ikutan.
“Pagi-pagi, gue butuh energi. Biasanya gue puter metal atau rock keras. Siang, pas lagi kerja, gue butuh fokus. Gue pindah ke lo-fi atau jazz instrumental. Sore, pas lagi capek, gue dengerin pop galau. Malam, pas lagi santai, gue dengerin dangdut atau K-Pop.”
Gue tanya: “Nggak ada genre yang mendominasi?”
“Nggak. Karena gue beda orang di waktu yang beda. Pagi gue butuh semangat. Siang gue butuh konsentrasi. Malam gue butuh hiburan. Nggak mungkin satu genre bisa ngasih semua itu.”
Rizky punya teori sendiri:
“Gen Z itu generasi yang hidupnya nggak linear. Kita bisa stres pagi, senang siang, galau sore, dan happy lagi malam. Musik itu alat buat ngatur mood. Makanya kita pake genre yang sesuai sama mood saat itu.”
Momen lucu: “Pernah gue lagi di kantor, dengerin metal pake headset. Tiba-tiba lagu ganti ke dangdut, gue lupa matiin shuffle. Collega gue denger dari luar. Dia kira gue kesurupan.”
Statistik: Menurut data Spotify Wrapped Rizky, tahun lalu dia dengerin 27 genre berbeda. Yang paling atas? Metal, K-Pop, dan dangdut. Tiga genre yang nggak nyambung.
Kasus #3: Sasa (19, Mahasiswa Baru) — “Gue Nggak Mau Dikotak-kotakin”
Sasa baru lulus SMA. Di masa-masa transisi ini, dia lagi eksplorasi banyak hal, termasuk musik.
“Dulu pas SMA, gue ikut-ikutan temen. Mereka pada suka K-Pop, ya gue ikut suka K-Pop. Tapi pas gue dengerin sendiri di rumah, gue juga suka dangdut yang diputer ibu. Tapi malu dong kalau ketahuan.”
Sekarang Sasa udah nggak peduli.
“Gue sadar: kenapa gue harus malu? Dangdut enak. Metal enak. Pop enak. Semua enak. Yang nggak enak tuh orang yang nge-judge orang lain karena selera musiknya.”
Sasa cerita, dia sering dapat komentar dari temen-temennya.
“Ada yang bilang: ‘Lo kok suka dangdut sih? Kampungan.’ Ada yang bilang: ‘Lo kok suka metal? Setan.’ Tapi gue cuek. Musik itu buat gue, bukan buat mereka.”
Momen pemberontakan: “Gue bikin playlist khusus yang isinya lagu-lagu ‘nggak nyambung’ buat ngejek konsep genre. Judulnya: ‘Buat Yang Sok Pilih Genre’. Isinya: dangdut, metal, K-Pop, gamelan, lagu gereja, adzan, sampe lagu anak-anak. Gue puter pas lagi kumpul sama temen-temen yang suka nge-judge.”
Data point: Di TikTok, tagar #NoGenre dan #PlaylistGila udah ditonton jutaan kali. Ribuan Gen Z pada bangga pamer playlist mereka yang campur aduk.
Kasus #4: Om Dana (50, Musisi Senior) — “Awalnya Saya Bingung, Sekarang Saya Belajar”
Om Dana musisi senior. Main gitar sejak 90an. Dulu, dia punya pandangan kaku soal musik.
“Dulu, orang tuh punya identitas musik. ‘Gue anak rock’, ‘Gue anak jazz’, ‘Gue anak dangdut’. Itu nentuin lo bergaul dengan siapa, lo ngapain, bahkan lo pakaiannya kayak apa.”
Tapi sekarang? Om Dana bingung liat anaknya (19) yang playlist-nya acak.
“Anak gue dengerin Taylor Swift, terus tiba-tiba Slipknot, terus tiba-tiba Via Vallen. Saya tanya: ‘Lo suka yang mana?’ Dia jawab: ‘Semuanya, Pa.’ Saya: ‘Maksudnya?’ Dia: ‘Ya semuanya enak.'”
Om Dana mikir anaknya nggak punya selera. Tapi lama-lama dia sadar:
“Mungkin ini zamannya. Mereka nggak terikat sama aturan. Mereka bebas milih apa yang mereka suka, tanpa harus masuk kotak. Saya belajar dari mereka. Sekarang saya juga mulai dengerin hal-hal baru. Umur 50 baru kenal K-Pop, gara-gara anak.”
Momen haru: “Pas saya ulang tahun, anak saya bikin playlist spesial. Isinya lagu-lagu 90an favorit saya, dicampur sama lagu-lagu yang dia suka. Jadi kami bisa dengerin bareng. Itu kado terbaik.”
Pelajaran: Mungkin Gen Z bukan nggak punya selera. Mereka punya selera yang lebih luas. Dan kita yang tua harus belajar menerima itu.
Kenapa Gen Z Nggak Punya Genre Favorit?
Dari obrolan sama mereka, plus ngobrol sama psikolog musik—sebut aja Bu Rini—gue dapet beberapa penjelasan:
1. Akses Tanpa Batas
Dulu, buat dengerin musik, lo harus beli kaset, CD, atau dengerin radio. Terbatas. Sekarang? Lo punya Spotify, YouTube, Apple Music dengan jutaan lagu dari seluruh dunia, semua genre, sepanjang masa. Gratis (atau murah). Lo bisa eksplorasi tanpa batas.
2. Algoritma yang Memanjakan
Spotify dan platform streaming punya algoritma yang belajar dari kebiasaan dengerin lo. Mereka ngasih rekomendasi yang “mungkin lo suka”. Dan karena lo dengerin banyak genre, rekomendasi lo juga campur aduk. Ini lingkaran: lo dengerin banyak, algoritma ngasih banyak, lo makin dengerin banyak.
3. Identitas Cair
Gen Z dikenal sebagai generasi yang nggak suka dikotak-kotakin. Mereka nggak mau didefinisikan oleh satu hal: satu genre musik, satu gaya berpakaian, satu orientasi politik. Mereka lebih suka fluid, berubah-ubah sesuai konteks.
4. Musik Sebagai Mood Booster
Buat Gen Z, musik itu alat. Bukan identitas. Mereka pake musik buat ngatur mood, buat temen kerja, buat hiburan, buat nostalgia. Dan mood itu berubah-ubah. Makanya musiknya juga berubah-ubah.
5. Era Remix dan Kolaborasi
Sekarang banyak musisi dari genre beda yang kolaborasi. Dangdut remix EDM. K-Pop collab dengan metal. Batas-batas genre makin kabur. Anak muda tumbuh di era di mana genre itu nggak penting.
6. Anti-Gatekeeping
Generasi sebelumnya suka “gatekeeping”: “Lo bukan penggemar sejati kalau nggak hafal semua lagu.” Gen Z nolak itu. Mereka bilang: “Saya suka lagu ini, itu cukup. Nggak perlu hafal semua.”
Tapi… Ini Yang Dikritik
Nggak semua orang setuju dengan fenomena ini. Beberapa kritik yang muncul:
1. “Mereka nggak punya kedalaman”
Kritikus bilang: dengan lompat-lompat terus, Gen Z nggak pernah bener-bener meresapi satu genre. Mereka cuma di permukaan, nggak masuk ke dalam.
2. “Playlist acak itu nggak punya jiwa”
Ada yang bilang: playlist yang terstruktur, dengan alur yang dibikin, itu punya jiwa. Yang acak-acakan kayak gado-gado, nggak punya cerita.
3. “Mereka budak algoritma”
Kritik pedas: mereka bukan milih musik. Mereka cuma nurutin apa kata algoritma. Spotify ngasih rekomendasi, mereka dengerin. Nggak ada kurasi, nggak ada pencarian aktif.
4. “Hilangnya ritual mendengarkan”
Dulu, mendengarkan musik itu ritual. Lo duduk, buka album, dengerin dari awal sampe akhir. Sekarang? Musik cuma jadi latar belakang aktivitas lain. Nggak dihayati.
Common Mistakes: Yang Sering Salah Soal Playlist Acak
1. Nge-judge orang dari playlist-nya
“Lo dengerin dangdut? Kampungan.” “Lo dengerin metal? Setan.” Udah, stop. Selera musik itu pribadi. Nggak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah.
2. Malu sama selera sendiri
Lo suka lagu anak-anak di umur 25? Nggak apa-apa. Lo suka K-Pop padahal lo anak metal? Nggak masalah. Yang penting lo happy.
3. Pura-pura suka genre tertentu biar keren
Jangan. Itu namanya hipokrit. Dengerin apa yang bener-bener lo suka, bukan apa yang “harus” lo suka.
4. Ngotot bahwa satu genre lebih unggul
Semua genre punya kelebihan dan kekurangan. Dangdut enak buat joget. Metal enak buat luapin energi. Jazz enak buat santai. Nggak ada yang paling unggul.
5. Lupa eksplorasi
Playlist acak itu keren. Tapi jangan sampai lo cuma dengerin yang itu-itu aja. Coba sesekali dengerin genre yang belum pernah. Siapa tau nemu yang baru.
Practical Tips: Cara Nikmatin Musik Tanpa Terikat Genre
Buat lo yang sekarang mungkin lagi bingung: “Gue sebenarnya suka apa sih?” Atau buat lo yang pengen eksplorasi lebih jauh:
1. Buat playlist berdasarkan mood, bukan genre
Bikin: “Pagi Semangat”, “Sore Galau”, “Malam Santai”, “Pas Lagi Stres”. Isi dengan lagu apa aja yang cocok buat mood itu. Nggak peduli genrenya.
2. Coba “one song a day” dari genre beda
Tantang diri lo: tiap hari, dengerin satu lagu dari genre yang belum pernah. Bisa dari rekomendasi temen, atau dari playlist “Discover Weekly” Spotify.
3. Jangan hapus lagu cuma karena “nggak nyambung”
Kalau lo suka satu lagu dangdut, simpan. Meskipun di playlist lo isinya metal semua. Itu ciri khas lo. Itu yang bikin lo unik.
4. Dengerin album utuh sesekali
Sekali-kali, coba dengerin satu album dari awal sampe akhir. Rasain alurnya. Itu pengalaman beda yang mungkin lo suka.
5. Diskusi sama temen yang beda selera
Ajak temen yang suka genre beda buat tukaran playlist. Lo bisa nemu hal-hal baru yang nggak bakal lo temuin sendiri.
6. Jangan takut sama algoritma
Algoritma itu temen, bukan musuh. Manfaatin rekomendasi buat eksplorasi. Tapi jangan cuma nurut. Sesekali cari sendiri.
7. Nikmatin, jangan dianalisis berlebihan
Pada akhirnya, musik itu buat dinikmati. Nggak perlu dipikirin “ini genre apa”, “ini layak nggak”. Kalau enak di telinga, ya dengerin.
Kesimpulan: Playlist Acak Itu Cerminan Jiwa yang Bebas
Pulang dari ngobrol sama Dita, Rizky, Sasa, Om Dana, dan Bu Rini, gue buka Spotify. Gue liat playlist “Liked Songs” gue. Isinya: Noah, Slank, Via Vallen, Blackpink, Slipknot, dan… lagu soundtrack Upin Ipin (buat nemenin ponakan main).
Gue tersenyum.
Ternyata gue juga kayak gitu. Playlist acak. Nggak jelas genrenya. Tapi itu gue. Kadang sedih, kadang marah, kadang senang, kadang pengen joget. Semua ada di satu tempat.
Mungkin ini jawabannya: Gen Z nggak punya genre favorit karena mereka nggak mau dipilihkan. Mereka mau jadi diri mereka sendiri—yang kompleks, yang berubah-ubah, yang nggak bisa dimasukin kotak.
Bu Rini bilang sesuatu yang ngena:
“Musik itu cerminan jiwa. Dan jiwa manusia itu kompleks. Nggak mungkin cuma satu genre. Yang bisa puas dengan satu genre, mungkin jiwanya sederhana. Atau mungkin mereka pura-pura.”
Dita, di akhir obrolan, bilang:
“Hidup udah berat. Jangan dipersulit. Kalau ada yang nanya ‘genre favorit lo apa’, gue jawab: ‘Semua yang enak.’ Dan itu jawaban paling jujur.”
Jadi, buat lo yang playlist-nya kayak gado-gado, yang suka lompat dari dangdut ke metal dalam 5 detik: lo nggak salah. Lo cuma… bebas.
Dan itu keren.
Lo sendiri gimana? Punya playlist acak yang bikin orang bingung? Atau malah lo tipe yang setia sama satu genre? Tulis di komen, gue baca satu-satu. Siapa tau dari playlist lo, kita bisa nemuin lagu baru buat didengerin bareng.